Mengapa mesti Partai Politik Lokal?
Rabu 15 November 2007, di sebuah café tak jauh dari Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, belasan wartawan dari berbagai media berkumpul. Mereka serius berdiskusi soal partai politik lokal. Ada yang setuju ada juga yang terang-terangan mempertanyakan effektifitasnya. 'Mengapa kita tidak memperbaiki saja partai politik nasional ketimbang menciptakan hal yang baru,' tutur wartawan itu.
Demos sebagai pengundang tentu mesti bersikap demokratis menanggapi pertanyaan kritis itu. Bagaimanapun, para wartawan itu adalah mitra kerja Demos. Lewat laporan-laporan merekalah temuan-temuan Demos didesiminasikan ke masyarakat luas. Wartawan sendiri merasa perlu ikut serta dalam diskusi itu untuk mengasah wawasannya tentang perkembangan poltik nasional.
Partai politik lokal adalah salah satu rekomendasi Demos. Hal itu beranjak dari keprihatianan kualitas kerja partai politik nasional yang amat buruk dalam memperjuangkan kepentingan konstituennya. Masyarakat luas yang telah memberikan suara kepada parpol nasional ternyata tidak mendapat imbal balik yang sepandan. Telah terjadi defisit demokrasi. Ciri-ciri kondisi itu antara lain adalah buruknya sistem keterbukaan dan akuntabilitas pemerintahan terpilih di segala tingkatan. Selain itu, kinerja dan independensi lembaga peradilan juga buruk. Demikian pula institusi representasi. Ide politik lokal sendiri sepertinya hampir mustahil bisa dilaksanakan secara nasional untuk pemilihan umum 2009 mendatang.
'Persoalannya terletak pada elite yang merasa ketakutan akan tersaingi oleh kehadiran partai politik lokal,' tegas Antonio Pradjasto, nara sumber utama diskusi siang itu. Menurut pengamatan peneliti utama Demos itu, elite politik memilih bersikap pragmatis ketimbang memperjuangkan agenda-agenda jangka panjang. Pembicaraan soal partai politik lokal menjadi relevan dalam konteks itu mengingat masyarakat yang cenderung skeptis terhadap isu-isu nasional. Bila ada partai lokal, kepedulian masyarakat akan masalah-masalah politik akan tumbuh. Persoalan-persoalan lokal yang setiap hari mereka hadapi merupakan hal yang nyata ketimbang masalah nasional yang terasa jauh.
Rusdi Marpaung, direktur Imparsial, yang tampil sebagai pembahas punya cara lain untuk mengillustrasikan arti penting partai politik lokal. 'Orang Jakarta akan merasa mendapat manfaat untuk terlibat dalam partai politik lokal karena isu banjir diangkat, demikian juga orang Sidoardjo merasa perlu mendukung partai lokal yang secara nyata peduli pada kasus bencana lumpur Lapindo.' tuturnya.
'Tapi hal pertama yang mesti dilakukan adalah agar mengubah etika berpolitik, karena saat ini muncul persepsi amat buruk terhadap politik, termasuk partai politik,' ujarnya seraya mengutip pendapat seorang aktifis LSM lain tentang caci maki publik pada perilaku politisi. 'Kalau etika tidak segera diperbaiki, ide partai politik lokal tidak akan pernah effektif,'tambahnya.
Kedua pembicaraitu tetap bersikukuh bahwa partai politik lokal merupakan ruang baru dalam kehidupan demokrasi di Indonesia untuk mengatasi kemandegan partai politik nasional dan persoalan representasi yang buruk. Banyak negara seperti Jerman, Finlandia, juga Spanyol dan India yang mengakui partai politik lokal. Negara-negara itu tidak merasa kehadiran partai politik lokal mengancam integrasi negara.

Masukkan komentar anda