Share |
UMUMKAN NAMA-NAMA PANSEL PENYELENGGARA PEMILU   •    “(De)Monopolisasi Demokrasi di Asia: Pengalaman Indonesia, Filipina, dan Korea Selatan”   •    Kepada Yang Terhormat: Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono   •    Pernyataan Sikap Bersama   •    Konferensi Pers KKPK untuk Resolusi Dewan HAM PBB   •   
Beranda | Program | Advokasi | Kampanye | Demokrasi Telah Dibajak Elite

Demokrasi Telah Dibajak Elite

Oleh


Kompas | 29 Januari 2004

Jakarta, Kompas - Para elite -- seperti pemerintah/presiden, lembaga legislatif dan partai politik, militer dan milisi, institusi keuangan internasional dan perusahaan multinasional -- telah membajak sebagian besar momentum transisi demokrasi dan mengambil keuntungan darinya. Kalangan elite telah menyesuaikan diri dengan demokrasi dan menjadikannya sebagai miliknya. Demikian salah satu kesimpulan hasil penelitian Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi (Demos) yang dibahas dalam seminar "Demokratisasi dan Konteksnya Pasca-Orde Baru di Indonesia", Rabu (28/1).

Hasil penelitian tentang "Masalah-masalah dan Pilihan-pilihan Demokratisasi di Indonesia" selama setahun terhadap 363 informan/responden di 29 provinsi ini dipaparkan Ketua Tim Peneliti Demos AE Priyono. Penelitian itu juga direkomendasi ahli politik Universitas Airlangga, Dr Daniel Sparringa.

Hasil penelitian dibahas Sekretaris Eksekutif The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial) Poengky Indarti dan Guru Besar Universitas Melbourne Australia, Prof Dr Arief Budiman.

Penelitian eksperimental
Penelitian itu, menurut Direktur Eksekutif Demos Asmara Nababan, adalah penelitian dengan pendekatan baru dan bersifat eksperimental. Penelitian itu hendak melihat permasalahan dan berbagai pilihan yang dihadapi aktivis pro-demokrasi pasca-Orde Baru. Yang diwawancarai adalah para aktor demokrasi yang bekerja di berbagai bidang.

"Kami tidak menanyakan pendapat para aktor mengenai keadaan demokrasi di Indonesia, tetapi lebih melakukan penilaian seobyektif mungkin mengenai permasalahan demokratisasi berdasarkan pengalaman para aktor yang terlibat di dalamnya," katanya.

Seperti dipaparkan AE Priyono, penelitian itu memperoleh 13 kesimpulan, yang salah satunya adalah pembajakan demokrasi oleh para elite. "Orang bisa keberatan bahwa masih ada beberapa ruang perbaikan bagi checks and balances dengan cara tekanan dari masyarakat sipil, tetapi seluruh kaum elite telah merampas momentum transisi menuju demokrasi," kata Priyono.

Daniel Sparringa mengemukakan, para ahli juga sependapat demokrasi telah dirampok, dibajak, dipalsukan oleh para elite politik yang korup dan manipulatif.

Pembajakan demokrasi itu, dicontohkan oleh Arief Budiman, adalah terpinggirkannya rakyat/mahasiswa yang pada tahun 1998 memelopori demokratisasi, tetapi akhirnya idenya dibajak oleh para elite, termasuk politisi. "Siapa waktu itu yang ngomong stop Soeharto? Mahasiswa. Sekarang ide itu dibajak oleh para elite politik dan mahasiswa tersingkir," kata Arief.

Sementara itu, Poengky Indarti menyatakan, Pemilihan Umum 2004 sebenarnya dapat dijadikan salah satu momentum untuk menyelamatkan arah transisi demokrasi. (BUR/MH)

Berlangganan komentar Komentar (0 Terkirim)

total: | Tampilkan:

Masukkan komentar anda

  • Garis tebal
  • Garis Miring
  • Garis bawah
  • Kutipan

Masukkan kode yang tertera pada gambar:

Captcha
  • Email ke teman Email ke teman
  • Versi cetak Versi cetak
  • teks biasa teks biasa

Beri peringkat artikel

0