Demos Indonesia - Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi: Demokrasi Dibajak Elite Politik Demokrasi Dibajak Elite Politik ================================================================================ Demos Indonesia on 28 Januari 2004 01:20:00 Suara Pembaruan | 28 Januari 2004 SUARA PEMBARUAN DAILY JAKARTA - Setelah lima tahun rezim otoriter Soeharto jatuh, momentum konsolidasi demokrasi justru tidak terwujud. Penyebab utamanya karena demokrasi dikuasai dan dibajak oleh elite politik. Pendapat itu mengemuka dari hasil penelitian Demos, yakni lembaga kajian demokrasi dan hak asasi yang disampaikan ketua tim penelitinya, AE Priyono dalam seminar "Demokratisasi dan Konteksnya Pasca Orde Baru di Indonesia: Sebuah Penelitian Berbasis Perspektif Aktor Demokrasi", di Jakarta, Rabu (28/1). Menurut Priyono, kesimpulan itu diperoleh dari penelitian panjang terhadap 363 informan di 29 provinsi. Para informan itu seluruhnya adalah aktor demokrasi yang bekerja di berbagai profesi. Dia mengungkapkan, para aktor demokrasi menilai bahwa sebagian hak dan institusi demokrasi nyata-nyata eksis. Ini terutama menyangkut sejumlah kebebasan sipil, seperti hak berbicara, berserikat, dan mendirikan partai dengan pengecualian di daerah konflik Papua dan Nanggroe Aceh Darussalam. Agenda Komprehensif Meskipun begitu mereka menilai gerakan demokrasi yang ada di Indonesia hampir tidak memiliki agenda komprehensif dan pada akhirnya mengalami pengurangan dukungan dari rakyat. Hal ini terjadi karena elite politik menggunakan dan menjadikan demokrasi layaknya benda milik pribadi yang digunakan untuk kepentingan pribadi dan golongannya sendiri. Dari hasil penelitian terungkap pula, proses berdemokrasi akan menghadapi berbagai persoalan, di antaranya berkaitan dengan masalah ke-Indonesia-an, fragmentasi gerakan demokrasi, institusionalisasi preman, dan lemahnya hak dan institusi demokrasi yang berkaitan dengan aspek keterwakilan. Arief Budiman, anggota Badan Pengurus Perkumpulan Demos di forum itu berpendapat, ide negara nasional jadi seperti kehilangan konteks, antara lain karena terjadi persengkongkolan di kalangan elite yang mempersulit gerakan pro-demokrasi. Dalam sambutan pembukaan seminar, Direktur Eksekutif Demos Asmara Nababan mengakui, demokratisasi adalah proses yang panjang yang membutuhkan kerja keras, konsistensi dan kesabaran. Selain itu, tidak ada roadmap yang siap dipakai menuju demokrasi yang sejati. Artinya, membangun demokrasi bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Apalagi bila hanya diserahkan semua urusannya kepada elite politik di pusat-pusat kekuasaan yang jumlahnya kurang dari satu persen rakyat Indonesia. "Kami tidak percaya ada proses membangun demokrasi yang bersifat instan. Namun menjadi tugas kita semua untuk menjaga sekaligus mengawal agar proses yang terjadi terus bergerak maju," kata Asmara. Dua Bulan Lagi Dia menjelaskan, penelitian tersebut tidak dimaksudkan untuk kepentingan Pemilu 2004, tetapi guna menakar ulang seluruh proses yang sedang terjadi di tingkat riil politik. Pemilu yang akan berlangsung sekitar dua bulan lagi masih bisa dipertanyakan maknanya bagi keterwakilan rakyatnya. Dari hasil penelitian Demos, keterwakilan rakyat saat ini justru mengecil dan makin buruk, padahal sasaran keberhasilan pemilu terletak pada sejauh mana substansi demokrasi dihormati dan dipenuhi, di antaranya representasi rakyat. Hal itu tidak lepas dari perilaku rezim Orde Baru yang memetaforakan pemilu sebagai pesta demokrasi yang sebenarnya sangat menyesatkan. Pemilu bukan pesta, terutama bukan pesta untuk merayakan hajat penguasa dan kekuasaan, karena yang sebenarnya terjadi pemilu adalah ketika rakyat menjatuhkan putusan dalam memilih wakil-wakilnya yang dapat dipercaya yang mampu mewakili kepentingan pemilihnya. (Y-3)