Share |
UMUMKAN NAMA-NAMA PANSEL PENYELENGGARA PEMILU   •    “(De)Monopolisasi Demokrasi di Asia: Pengalaman Indonesia, Filipina, dan Korea Selatan”   •    Kepada Yang Terhormat: Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono   •    Pernyataan Sikap Bersama   •    Konferensi Pers KKPK untuk Resolusi Dewan HAM PBB   •   
Beranda | Diskursus | Demokrasi Partisipatif dalam Gerakan Occupy Jakarta

Demokrasi Partisipatif dalam Gerakan Occupy Jakarta

Oleh


Occupy Jakarta by HarWib Occupy Jakarta by HarWib

Hingga 26 Oktober 2011 aktivitas pendudukan Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berjalan hingga hari ke-8. Aktivitas ini terinspirasi oleh gerakan Occupy Wall Street di Amerika.

Di Jakarta, beberapa individu mulai menyadari bahwa dirinya bagian dari 99% warga dunia yang dirugikan oleh sistem kapitalis yang dikendalikan hanya oleh 1% warga dunia dengan penghasilan ratusan milyar perbulan. Individu-individu di Jakarta yang merasa dirinya termasuk dalam kelompok 99% yang dirugikan ini mulai menggugat. Mereka mempertanyakan banyak hal dan mereka mulai menyuarakan kegelisah-kegelisahan mereka di ruang publik Bursa Efek Indonesia. Mereka meyakini bahwa inilah awal gerakan  demokrasi partisipatif.

Di lokasi yang menjadi pusat aktivitas bisnis yang terkait erat dengan berbagai korporasi besar  internasional maupun nasional dan memiliki kontrol kuat terhadap kehidupan warga Indonesia ini,   kumpulan warga sadar tersebut setiap hari datang dan berkumpul dari jam 13.00 dan berakhir 17.00. Mereka bicara melalui poster-poster protes dan spanduk. Diskusi-diskusi terus-menerus digulirkan setiap hari dengan berbagai tema. Mereka menggugat bahwa kelompok 1% tak hanya menjarah sumber kehidupan mayoritas warga, tetapi mereka juga mendiktekan jenis kebudayaan tertentu bagi yang 99% lainnya. Misalnya standar kecantikan bagi 99% perempuan ditentukan oleh 1% orang yang mendominasi pasar dan media masa.  Rendahnya gaji buruh di berbagai belahan dunia ditentukan oleh kepentingan 1% warga terkaya dunia.  Bahkan rendahnya harga kentang yang menyebabkan petani Dieng merugi tak lepas dari pengaruh kelompok 1% karena merekalah yang memiliki kekuatan mendatangkan kentang-kentang dari Bangladesh dan China sehingga harga kentang dalam negeri anjlok.

Para peserta aksi Occupy Jakarta ini datang dari berbagai area di Jakarta. Mereka sering harus menembus macet dan kadang hujan dari Condet, Bogor, Bintaro, Slipi, Kampungrawa dan kadang dari luar daerah seperti Dieng dan Subang menuju BEI untuk berpartisipasi dalam protes. Mulanya mereka tidak saling mengenal satu dengan yang lain, namun karena setiap hari bertemu maka mulailah terbentuk semacam ikatan bersama. Aktivitas ini digerakkan oleh kesadaran, hati dan cita-cita mengenai sebuah perubahan. Mereka percaya bahwa demokrasi merupakan sistem dimana masyarakat merupakan sumber aspirasi utama seharusnya sistem yang dibangun saat ini harus membumi, mengikuti suara hati masyarakat dan dapat membentuk suatu keputusan yang benar-benar merupakan kebutuhan warga. Demokrasi partisipatif adalah demokrasi yang menempatkan seluruh warga sebagai pelaku pengambilan keputusan. Sedangkan yang ada saat ini sebanyak 1% warga tidak mampu menyelaraskan kepentingan pribadi dengan kepentingan sosial sehingga cenderung menguasai dan menghegemoni kehidupan 99% warga.

Aksi kolektif Occupy Jakarta diharapkan menjadi gerakan sosial baru yang mulai mendorong terbangunnya demokrasi partisipatif. Dalam aktivitas kelompok ini terlihat mulai membadankan beberapa prinsip-prinsip demokrasi partisipatif. Sebagai contoh seluruh keputusan akan diputuskan dalam forum terbuka dimana setiap peserta memiliki kesempatan yang sama dalam proses pengambilan keputusan. Dalam demokrasi partisipatif setiap pihak hasrus memiliki fungsi sebagai pengambil keputusan. Bahkan dalam kelompok menekankan bahwa semua orang harus bicara, semua orang harus  harus menjadi narasumber bagi pihak luar. Siapapun boleh memberikan keterangan pada pihak luar mengenai aktivitas mereka.  Selain itu kedatangan mereka ke BEI juga dimaknai sebagai bentuk partisipasi warga negara dalam mempengarui berbagai kebijakan yang menyangkut hidup mereka sehari-hari. Pendanaan dalam proses partisipasi ini disepakati bersama, diadakan dan dipublikasikan.  Ciri lain dari demokrasi partisipatif yang ada dalam gerakan ini adalah ajakan untuk berpartisipasi selalu disosialisasikan. Kelompok ini bersepakat akan terus menyerukan kepada  siapapun untuk turut terlibat dan berpartisipasi dalam aksi ini sehingga makin lama makin terbangun kekuatan besar warga yang mengusung aspirasinya sehingga keputusan akhirnya ditentukan oleh 100% warga. (sm)

 

 

 

*Foto dari  http://www.facebook.com/HarWib

 

Berlangganan komentar Komentar (2 Terkirim)

avatar
tafseer ahlam 23 Nopember 2011 04:56:47
terima kasih untuk artikel ini sangat informatif
avatar
Demos Indonesia 23 Nopember 2011 13:25:18
Rekan Tafseer Ahlam yang baik,

Terima kasih atas apresiasi anda.
Silakan datang langsung ke pelataran BEI di kawasan Sudirman untuk terlibat langsung dalam kegiatan ini.

Salam
total: 2 | Tampilkan: 1 - 2

Masukkan komentar anda

  • Garis tebal
  • Garis Miring
  • Garis bawah
  • Kutipan

Masukkan kode yang tertera pada gambar:

Captcha
  • Email ke teman Email ke teman
  • Versi cetak Versi cetak
  • teks biasa teks biasa

Beri peringkat artikel

0