Share |
DEMOS: Ubah Paradigma Negara soal Hak Pekerja   •    UMUMKAN NAMA-NAMA PANSEL PENYELENGGARA PEMILU   •    “(De)Monopolisasi Demokrasi di Asia: Pengalaman Indonesia, Filipina, dan Korea Selatan”   •    Kepada Yang Terhormat: Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono   •    Pernyataan Sikap Bersama   •   
Beranda | Diskursus | Mengenal Lebih Jauh Gerakan Sosial

Mengenal Lebih Jauh Gerakan Sosial

Oleh


Diskusi In House Training Gerakan Sosial di Indonesia bersama Ganda Upaya, Jumat 15 Oktober 2011 Diskusi In House Training Gerakan Sosial di Indonesia bersama Ganda Upaya, Jumat 15 Oktober 2011

Kegiatan In House Training pada Jumat 15 Oktober 2011 bertema Gerakan Sosial di Indonesia dengan narasumber Drs. Ganda Upaya (Dosen FISIP Univ. Indonesia)

Sejak tahun 60-an terjadi perkembangan yang luar biasa mengenai konsep gerakan sosial. Sebagai contoh gerakan perempuan dan gerakan civil rights (hak-hak sipil) di Amerika dan Eropa. Gerakan sosial berbeda dengan gerakan Collective Action (gerakan secara bersama). Collective action adalah kegiatan bersama yang dilakukan bersama untuk mencapai tujuan. Gerakan sosial adalah tindakan bersama yang dilakukan berkesinambungan secara ide, waktu maupun agenda untuk dapat mempertahankan atau merubah suatu keadaan.

Perkembangan Gerakan Sosial secara Konsep

Kasus Prita lebih tepat disebut Collective action daripada gerakan sosial. Jika Kasus Prita diarahkan untuk memperjuangkan citizenships (kewargaan) maka dapat disebut sebagai gerakan sosial. Meskipun keluhan Prita dianggap hanya sebatas hubungan pasien dengan rumah sakit, namun secara tidak sadar telah tumbuh kesadaran sebagai warga negara yang menuntut haknya.  Menurut Ganda Upaya, “Kesadaran mengenai kewargaan di Indonesia kurang”, kasus Prita ini sebenarnya dapat digunakan sebagai momentum namun berhenti ketika kasus hukumnya (sementara) berhenti.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi gerakan sosial, yang pertama gerakan tersebut memperjuangan “ID” atau identitas. Misalnya gerakan yang memperjuangan perempuan, lingkungan, partisipasi politik, dan lain sebagainya yang mewakili tujuannya. Kemudian "ID" ini ditujukan kepada siapa?  (Baca Iwan Gardono Sujatmiko; Gerakan sosial dan Dinamika Masyarakat). Jika gerakan tersebut ditujukan kepada state (negara) maka disebut sebagai gerakan politik, karena gerakan ini bertujuan untuk merubah kebijakan. Tetapi  “ID” akan menjadi gerakan sosial ansih jika hubungannya horizontal. Ganda mencontohkan gerakan perempuan melawan patriarki sebagai gerakan sosial. Faktor kedua adalah aktor yang muncul untuk memperjuangkan gerakan tersebut. Aktor dapat berupa seorang tokoh maupun kelompok. Dan yang terakhir adalah organisasi.

Resource Mobilization Theory and Smos

Organisasi tidak dapat lepas dari gerakan sosial. Mengapa? Ganda memaparkan teori ini dengan mengangkat permasalahan organisasi khususnya Non-Government Organization (NGO) di Amerika Latin. Bahwa ada persoalan pada organisasi dimana pemimpin/elitnya tidak jelas (maksudnya ingin terus memimpin), tidak transparan, dan tidak jelas merepresentasikan siapa atau kelompok mana. Oleh sebab itu organisasi yang mendorong gerakan sosial harus dapat membuat framing/kerangka/jargon atau lebih tepat disebut sebagai agenda perjuangan bersama. Berikutnya komitmen yang adalah keterikatan untuk bertanggungjawab menjalankan agenda, dan terakhir adalah spirit the corps. Ganda menjelaskan bahwa bisa saja kita gebrak-gebrak meja didalam (organisasi), tapi begitu tampil diluar sikap dan pernyataan kita membawa agenda organisasi.

Bagaimana dengan NGO di Indonesia sendiri? NGO di Indonesia mengalami fragmentasi perjuangan yang sebabkan oleh ego sektoral dan terlebih lagi elitnya menjadi oligarki. Kelemahan lainnya adalah ketika pergantian pemimpin, organisasi tersebut tidak berkembang. Maka gerakan sosial sendiri tidak mudah berkembang karena ada persoalan pada tiga hal tersebut (organisasi, komitmen dan leadership).

Gerakan sosial mensyaratkan membangun network baik ditingkat nasional maupun lokal. Cara membangun network adalah dengan menumbuhkan trust. Pada tingkat lokal harus muncul leader of civil society agar setiap atau seluruh organisasi masyarakat sipil memperjuangkan tujuannya menggunakan gerakan sosial.

Political Process Theory and Smos

Adakah political opportunity dalam gerakan sosial? Jika ingin mengembangkan satu ide, adakah kesempatan dan peluangnya. Apakah rezim ini represif atau tidak? Adakah Undang – undang yang dapat menjadi celah untuk memperjuangkan agenda kita? Maka selain network, gerakan sosial juga membutuhkan kemampuan membuat mapping baik pada tingkat lokal maupun nasional. Tujuannya agar aktor dan organisasi memahami persoalan ekomoni, sosial, budaya pada masing – masing daerah. Kemudian diikuti strategi seperti membuat leaflet,website, workshop, seminar, mengeluarkan statement secara rutin, dan melatih demonstrasi sehingga berkesinambungan dan dapat diukur gagal tidaknya suatu perjuangan maka rangkaian ini disebut sebagai political process.

Muncul pertanyaan, bagaimana membedakan antara gerakan sosial, gerakan ekonomi, gerakan politik, kemudian gerakan cultural dengan gerakan sosial? Ganda kembali memberikan beberapa contoh yang memudahkan misalnya pedagang tradisonal memperjuangan akses Usaha Kecil Menengah (UKM), kelihatannya ekomoni, namun pedagang tersebut memperjuangkan uang dari negara maka gerakan ini disebut gerakan politik. Contoh lain misalnya kawan – kawan NU mengadakan itsigothsah yang terlihat seperti gerakan cultural, namun sebenarnya itsigothsah merupakan salah satu strategi (show of force) agar mendapat perhatian dari pemerintah. Ini juga merupakan gerakan politik. Gerakan sosial berdasarkan sosiologi politik memiliki basis sosial seperti etnik, communal, agama, jender, urbanpoor. Sedangkan berbasis kelas seperti buruh, petani, dsb.

Cultural and Cognitive Theories and Smos

Gerakan sosial mengedepankan soal identitas, mengambil contoh gerakan gay dan lesbian. Kelompok ini menyuarakan kepentingannya lebih pada hubungan horizontal yang ada yaitu masyarakat. Counter movement selalu ada sebagai dialektika sosial. Meskipun tidak memiliki organisasi, namun gerakan ini berkaitan dengan value  dan benefit dimana gerakan ini memiliki kesamaan cita – cita untuk menuntut pengakuan indentitas. Contoh lain misalnya tidak mungkin membuat gerakan melawan budaya partiarki di Aceh. Hal ini mengingatkan kita bahwa gerakan sosial mensyaratkan organisasi melakukan mapping terlebih dahulu agar memperoleh social and cultural context.

Menyinggung tentang Blok Politik Demokratik (BPD) Demos yang sulit menyatukan isu, sektor dan gerakan, Ganda Upaya berpendapat bahwa ide BPD harus dijabarkan dalam framing yang tepat agar petani, melayan, buruh dan sektor lain merasa terwakili. Strateginya dengan melakukan mapping terlebih dahulu ditingkat grass roots. Berdasarkan pengalamannya, secara sosial, grass roots tidak percaya pada nasional. Demos harus membangun social trust dengan network, yang terakhir BPD harus memiliki pemimpin yang komunikatif serta diakui ditingkat lokal.  (is)

 

*Terlampir bahan bacaan yang mendukung diskusi Gerakan Sosial di Indonesia.

*Foto-foto merupakan dokumentasi Demos

 

Berlangganan komentar Komentar (0 Terkirim)

total: | Tampilkan:

Masukkan komentar anda

  • Garis tebal
  • Garis Miring
  • Garis bawah
  • Kutipan

Masukkan kode yang tertera pada gambar:

Captcha
  • Email ke teman Email ke teman
  • Versi cetak Versi cetak
  • teks biasa teks biasa

Galeri gambar

Beri peringkat artikel

0