INDONESIA HARUS SEMBUHKAN "SAKIT" AKIBAT KETIDAKADILAN DEMOKRASI
formatnews - Jakarta, 10/2 : "Sebenarnya setelah mengalami keterpurukan dan ketidakadilan dalam demokrasi, rakyat Indonesia tidak butuh figur-figur terkenal untuk mewakili mereka di DPR dalam menyelenggarakan demokrasi," kata Budiman Sudjatmiko dalam Diskusi Publik bertajuk "Wajah Demokrasi Indonesia" di Jakarta Media Center, Rabu.
Budiman menyayangkan tenggelamnya popularitas aktivis-aktivis penyeru demokrasi yang telah bertahun menyerukan keadilan bagi demokrasi . Hal itu disebabkan karena mereka kalah suara dibandingkan calon-calon legislator yang kala pemilihan anggota legislatif baru muncul.
"Mereka (aktivis demokrasi, red) padahal sudah berjuang 10 sampai 20 tahun. Namun, rakyat tak juga memilih mereka padahal mereka paham betul tentang demokrasi. Mereka tergantikan denga orang-orang baru yang tidak paham apa-apa," lanjut Budiman.
Senada dengan Budiman Sudjatmiko, pengajar Fisipol UGM, Cornelius Lay mengatakan, banyak orang yang tidak kompeten mencoba bicara tentang demokrasi. Pada akhirnya, mereka duduk sebagai anggota Dewan.
"Ada nilai dasar dalam diri orang-orang tersebut yang tidak kompatibel dengan konsep demokrasi," kata Cornelius Lay.
Menurut Budiman yang juga merupakan Anggota Komisi II DPR tersebut, rakyat seharusnya paham bukan figur-figur terkenal yang mereka butuhkan untuk menyembuhkan "sakit" mereka. Maka Indonesia dinilainya belum sadar betul akan apa yang mereka butuhkan.
Untuk menyadarkan rakyat, kata dia, maka diperlukan instrumen-instrumen, yakni lembaga sosial, pers, dan mahasiswa.
Selain itu, para politisi saat ini dinilainya seperti berada dalam "kawanan" yang harus saling mengerti dan memaklumi . Artinya, politisi hidup di dalam sistem sosial dan kultur yang salah, namun tak bisa melawan. Akhirnya mereka hanya mengikuti sistem sosial dan kultur yang salah tersebut.
"Yang terpenting sebenarnya kita harus tetap berada di sistem tersebut namun jangan sampai terbawa arus dan harus tetap menjunjung ideologinya," kata Budiman.
Uang dalam Politik
Menurut Budiman, terpelantingnya aktor-aktor pemerhati demokrasi dari kancah perpolitikan salah satunya disebabkan karena mereka tidak memiliki anggaran yang memadai untuk berkampaye. Uang memainkan hampir segalanya dalam pemilihan legislatif.
"Aktor-aktor pejuang demokrasi dulu telah berupaya menyebarkan pengetahuan mereka tentang demokrasi. Mereka hafal semua teori. Namun, apa daya, mereka gagal di saat "injury time"," kata Budiman.
Kecurangan tak bisa dielakkan lagi dari pilleg, kata Budiman,karena politik di Indonesia sarat dengan proses yang didukung oleh uang.
Sementara itu, Cornelius Lay sependapat dengan Budiman Sudjatmiko, dengan menyebutkan segala yang diungkapkan Budiman tersebut adalah realitas yang terjadi, bahwa hal itu adalah gambaran korupsi. *ant*
http://www.formatnews.com/?act=view&newsid=41729&cat=129

Masukkan komentar anda