Share |
DEMOS: Ubah Paradigma Negara soal Hak Pekerja   •    UMUMKAN NAMA-NAMA PANSEL PENYELENGGARA PEMILU   •    “(De)Monopolisasi Demokrasi di Asia: Pengalaman Indonesia, Filipina, dan Korea Selatan”   •    Kepada Yang Terhormat: Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono   •    Pernyataan Sikap Bersama   •   
Beranda | Dinamika Lokal | Kabar Lokal | PERTAMBANGAN PESISIR DAN LAUT BABEL

PERTAMBANGAN PESISIR DAN LAUT BABEL

Oleh


Babel anti nuklir; pertambangan pesisir laut; anti nuklir Babel anti nuklir; pertambangan pesisir laut; anti nuklir

Oleh : Yudho H. Marhoed (Simpul Walhi Babel)

Potensi pertambangan pasir timah wilayah Bangka cukup menjanjikan hingga menarik para pengusaha luar dan dalam daerah Bangka untuk berinvestasi. Tak heran, wilayah laut dan darat berpotensi memiliki cadangan biji timah pun hampir digarap untuk usaha pertambangan. Meski demikian dampak keberadaan aktivitas kapal isap di wilayah Babel ini belum sepenuhnya dirasakan bagi kesejahteraan masyarakat, baik dari segi lingkungan, fee (kompensasi), serta perizinan dan tak kalah penting tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di kapal isap.

Adapun dampak yang ditimbulkan dari aktivitas pertambangan di pesisir laut oleh Kapal Isap antara lain:

1.    Sebagian besar terumbu karang tertutup lumpur bahkan tertimbun oleh debu sisa penambangan timah lepas pantai. Kerusakan ekosistem alami peissir ini akhirnya berdampak pada menurunnya stock perikanan yang dibuktikan dengan menurunnya hasil tangkapan nelayan. Ini membuktikan bahwa kerusakan akibat penambangan berdampak hingga bermil-mil jauhnya. Dampaknya, harga ikan di Pulau Bangka menjadi mahal dan daya beli masyarakat terhadap ikan secara tidak langsung semakin menurun.

2.    Sedimentasi lumpur tersebut menyebabkan terumbu karang tertutup lumpur dan mati, yang berganti dengan makro alga, dan jika terus menerus dibiarkan daerah tersebut akan menghadapi bencana pangan dan ekologi akibat langkanya berbagai jenis ikan karena habitatnya telah dirusak. Kerusakan terumbu karang berdampak pada turunnya produksi ikan tangkap nelayan, karena semakin kecil ukuran ikan yang tertangkap semakin jauh daerah penangkapan ikan, hal ini mengakibatkan meningkatnya biaya produksi nelayan dan menyebabkan rendahnya pendapatan nelayan kecil dan harga ikan mahal.

3.    Pemulihan (recovery) ekosistem terumbu karang yang rusak akibat aktivitas penambangan sangat sulit untuk dilakukan. Ini karena telah terjadi perubahan tipe substrat dan tertutupnya terumbu karang oleh lumpur dan debu. Syarat utama untuk melakuakn rehabilitasi adalah tidak terjadi lagi tekanan ekologis. Ini artinya laut harus steril dari aktivitas penambangan lepas pantai.

4.    Akibat pengerukan timah di lepas pantai terjadi perubahan topografi pantai dari yang sebelumnya landai menjadi curam. Hal ini akan menyebabkan daya abrasi pantai semakin kuat dan terjadi perubahan garis pantai yang semakin mengarah ke daratan. Aktivitas pengerukan dan pembuangan sedimen akan menyebabkan perairan di sekitar penambangan mengalami kekeruhan yang luar biasa tinggi. Radius kekeruhan tersebut akan semakin jauh ke kawasan lainnya jika arus laut semakin kuat. Karenanya, meskipun pengerukan tidak dilakukan di sekitar daerah terumbu karang, namun sedimen yang terbawa oleh arus bisa mencapai daerah terumbu karang yang bersifat fotosintetik sangat rentan terhadap kekeruhan.

5.    Sekitar 50 persen terumbu karang di Provinsi Bangka Belitung (Babel) rusak akibat sedimentasi lumpur yang berasal dari aktivitas penambangan timah di perairan provinsi kepulauan berpenduduk 1,2 juta jiwa tersebut. kerusakan terjadi akibat terumbu karang tertutup lumpur terkait kegiatan kapal isap dan tambang inkonvensional (TI) apung yang terus menyedot timah di wilayah perairan. 30 titik wilayah perairan Pulau Bangka dan Belitung mulai 2007 hingga 2010, sebanyak 50 persen terumbu karang mengalami kerusakan akibat tertutup lumpur sebagai dampak beroperasinya kapal isap dan TI apung serta diperparah pengeboman ikan di perairan kedua pulau tersebut.

Terhadap persoalan tersebut, selain adanya aksi-aksi penolakan masyarakat dari daerah lokasi aktifitas kapal isap juga aksi dari massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Tolak Kapal Isap yang mendesak PT Timah (Persero) Tbk menghentikan operasi kapal isap di Bangka (22/12/10).

Dalam waktu dekat akan diadakan Temu Nelayan yang diawali dari Kabupaten Bangka Barat, Bangka, Bangka Selatan, Bangka Tengah kemudian Belitung. Dari pertemuan tersebut akan dilaksanakan pula Kongres Nelayan se Babel. Serta akan melakukan Gugatan secara class action dan Legalstanding.

BABEL MENOLAK PLTN 

PLTN diwacanakan ke public melalui media pada tanggal 15 Nopember 2008, yang dihembuskan oleh Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kep Babel yang mendalilkan semakin merendupnya investasi.

Pernyataan penolakan langsung pula dilontarkan sehingganya wacana tersebut tidak lagi muncul ke public di Babel.

Sampai Februari 2010, wacana PLTN kembali menjadi pergunjingan di Babel.

Pada tanggal 25 Oktober 2010 telah dilakukan penandatanganan MoU antara BATAN dan Pemkab Bangka Barat serta Pemkab Bangka Selatan untuk dilakukan penetapan visibility study tapak PLTN di kedua tempat tersebut. Kedua lokasi dipilih dengan memilih tapak lokasi yang memiliki jarak terdekat dengan Pulau Sumatera. Kab Bangka Selatan terletak di Desa Permis Kecamatan Simpang Rimba pada tahun 2011 dan di Bangka Barat terletak di Teluk Ular Kecamatan Muntok pada tahun 2012.

Pada tanggal 3 November 2010 di Kabupaten Bangka Barat akan dilakukan peletakan batu pertama sebagai keseriusan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Peletakan batu pertama ini akan dilakukan langsung oleh Bapak Gubernur H. Eko Maulana Ali.

Pada bulan pula November pula berlangsung Deklarasi "Babel go Nuclir" di Bangka Botanical Garden (BBG) Pangkalpinang.

Aksi-aksi penolakan terus dilakukan dengan melakukan aksi dijalan. Sangat disadari karena kurangnya pengetahuan tentang Nuklir oleh elemen masyarakat Babel sehingga dirasa perlu melibatkan jaringan yang memahami tentang nuklir.

Pada tanggal 25 Februari 2011 akan diadakan dialog public dengan tema “Mengapa Harus Nuklir?” dan rencananya akan mendeklarasikan gerakan Babel No Nuclir.

Peta perlawanan

Peta perlawanan berawal dari Simpul Walhi Babel, yang diperkuat oleh unsur-unsur Mahasiswa yang tergabung PERMAHI, HMI.

Jurnalis Lingkungan Sungailiat juga pernah melakukan aksi penolakan terhadap rencana pembanguan PLTN.

Namun saat ini gerakan massa masih bersifat reaksioner dan belum terkordinasi. Untuk sementara disepakati pada tanggal 25-26 Februari ini akan diadakan Dialog Publik tentang Nuklir dengan mengundang narasumber dari Green Peace, Manusia, ICES serta pakar Nuklir Nasional sembari akan menyusun rencana tindak lanjut sehingga gerakan penolakan lebih tersistematis dan bersinergi.

 

*Gambar diunduh dari :

1.  greenpeace.org

2.  antaranews.com

3.  posbelitung.com

Berlangganan komentar Komentar (2 Terkirim)

avatar
Kurniawan 24 Oktober 2011 13:54:31
Apa ada data statistik yg menunjukkan penurunan produksi ikan?
apa ada data kerusakan terumbu karang karena aktifitas penambangan?
klo ada tlg kirim ke email/FB saya awal.rizka@yahoo.com... terimakasih
avatar
Demos Indonesia 09 Nopember 2011 11:04:37
Rekan Kurniawan yang baik,

Teirma kasih atas atensi anda terhadap website Demos dan artikel-artikel yang ada di dalamnya.
Tulisan mengenai Pertambangan Pesisir dan Laut Babel ini ditulis oleh salah seorang jaringan Demos di Babel, yaitu rekan Yudho. Tulisan ini disampaikan Rekan Yudho saat pertemuan jaringan Demos awal Maret 2011, sebagai informasi perkembangan terakhir kondisi gerakan sosial di Babel (saat itu).

Jika tidak keberatan, bolehkan kita berkenalan lebih dulu?
Silakan kontak vial email di wiwiek@demos.or.id


Teirma kasih.
total: 2 | Tampilkan: 1 - 2

Masukkan komentar anda

  • Garis tebal
  • Garis Miring
  • Garis bawah
  • Kutipan

Masukkan kode yang tertera pada gambar:

Captcha
  • Email ke teman Email ke teman
  • Versi cetak Versi cetak
  • teks biasa teks biasa

Galeri gambar

Beri peringkat artikel

0